Sabtu, 11 Mei 2013

Pengukuran Panjang

Pengukuran Panjang. Satuan panjang yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya milimeter (mm), sentimeter (cm), desimeter (dm), meter (m), hektometer (hm) dan kilometer (km). Meter adalah satuan dasar untuk ukuran panjang dalam sistem SI.  Satuan meter disingkat menggunakan simbol m. Meter bisa ditulis sebagai metre dalam bahasa Inggris, atau meter dengan ejaan Amerika. Sebelum membahas lebih jauh tentang satuan panjang sebaiknya pahami terlebih dahulu hubungan antar satuan panjang. Hubungan antar satuan panjang dapat dicari dengan menggunakan anak tangga seperti pada gambar di bawah.


perasi satuan panjang
Bagaimanakah operasi satuan panjang pada operasi satuan panjang satuan harus disamakan terlebih dahulu..
Contoh:
1. 3 km + 8 dam – 20 hm = ... m.
    3 km = 3 × 1.000 m = 3.000 m
    8 dam = 8 × 10 m = 80 m
    20 hm = 20 × 100 = 2.000 m
    Jadi, 3 km + 8 dam – 20 hm = 3.000 m + 
    80 m – 2.000 m
    = 1.080 m
2. 3.000 mm + 5.000 cm – 40 m = ... dm.
    3.000 mm = 3.000 : 100 m = 30 dm
    5.000 cm = 5.000 : 10 dm = 500 dm
    40 m = 40 × 10 = 400 dm
    Jadi, 3.000 mm + 5.000 cm – 40 m = 30 dm + 500 dm – 400 dm
    = 130 m

Pengukuran Waktu

Pengukuran Waktu. Sebelum melakukan pengukuran waktu ada baiknya terlebih dahulu mengenal istilah-istilah yang ada dalam satuan waktu. Banyak sekali istilah yang digunakan untuk satuan waktu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Milenium, Milenium adalah bilangan untuk tiap jangka waktu seribu tahun dalam kalender. Tahun 2000 disebut sebagai awal dari alaf baru dalam memasuki alaf ketiga (tahun 2000 sampai tahun 2999).
  • Abad, Abad adalah sebutan untuk jangka waktu seratus tahun. Satu abad bersamaan dengan sepuluh dekade. Abad ini, abad ke-21, bermula pada tahun 2001 hingga tahun 2100.
  • Dasawarsa ( dasa artinya sepuluh (jawa) warsa artinya tahun), Dasawarsa atau dekade adalah unit waktu yang terdiri dari 10 tahun. Umumnya, satu dasawarsa dimulai pada tahun yang berakhir dengan angka 0, dan berakhir pada tahun yang berakhir dengan angka 9. Contoh: dasawarsa 80-an, dimulai dari tahun 1980 sampai 1989
  • Windu = 8 tahun, Windu adalah istilah untuk selang waktu selama 8 tahun 
  • Lustrum adalah istilah untuk selang waktu 5 tahun
  • 1 tahun = 12 bulan = 52 minggu = 365 hari
  • 1 bulan = 28 – 31 hari
  • 1 minggu = 7 hari
  • 1 hari = 24 jam
  • 1 tahun = 4 triwulan
  • 1 tahun = 3 caturwulan
  • Tahun kabisat, Tahun Kabisat (Bahasa Inggris: Leap Year) adalah sebuah Tahun Syamsiah di mana pada tahun tersebut jumlah hari tidak terdiri dari 365 hari tetapi 366 hari. Satu tahun syamsiah tidak secara persis terdiri dari 365 hari, tetapi 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik. Jika hal ini tidak dihiraukan, maka setiap 4 tahun akan kekurangan hampir 1 hari (tepatnya 23 jam 15 menit 0,7256 detik).Maka untuk mengkompensasi hal ini, setiap 4 tahun sekali (tahun yang bisa dibagi 4), diberi 1 hari ekstra: 29 Februari. Tetapi karena 5 jam 48 menit 45,1814 detik kurang dari 6 jam, maka tahun-tahun yang bisa dibagi 100 (seperti tahun 1900), bukan tahun kabisat, kecuali bisa dibagi dengan 400 (seperti tahun 2000).
Mengubah ke satuan yang lebih kecil
1. 5 milinium = 5 × 10 abad = 50 abad
2. 7 dasawarsa = 7 × 10 tahun = 70 tahun
3. 10 lustrum = (10 × 5) tahun = 50 × 12 bulan = 600 bulan
4. 5.000 tahun =5 000/100 = 50 abad
5. 48 tahun =48/8 windu = 6 windu
6. 64 minggu =64/4 bulan = 16 bulan

Operasi Hitung Satuan Waktu
a. 3 milenium + 5 abad – 100 windu = ... tahun.
    3 milenium = 3 × 1.000 = 3.000 tahun
    5 abad = 5 × 100 = 500 tahun
    100 windu = 100 × 8 = 800 tahun
    Jadi, 3 milenium + 5 abad – 100 windu = 3.000 + 500 – 800 tahun = 2.700 tahun
b. 10 windu – 48 bulan – 104 minggu = ... tahun
    10 windu = 10 × 8 = 80 tahun
    48 bulan = 48/12 = 4 tahun
     104 minggu =104/52 = 2 tahun
     Jadi, 10 windu – 48 bulan – 104 minggu = 80 – 4 – 2 tahun = 74 tahun.
Hubungan jam, menit, dan detik
  • 1 hari = 24 jam
  • 1 jam = 60 menit = 3.600 detik
  • ¼ Jam = 15 menit = 900 detik
  • ½ Jam = 30 menit = 1.800 detik
  • ¾ Jam = 45 menit = 2.700 detik
  • 1 menit = 60 detik
Contoh:
a. 2 hari = 2 × 24 jam = 48 jam
b. 120 detik =120/60 menit = 2 menit
c. 240 menit = 240/60 jam = 4 jam

Operasi hitung jam, menit, dan detik
Operasi hitung jam menit dan detik harus memperhatikan bahwa 1 jam =60 menit, 1 menit = 60 detik. Artinya apabila meminjam satu menit berarti menjadi ditambah 60 detik. Misal 72 detik berarti 60 detik + 12 detik atau 1 menit 12 detik.
Contoh:
1) 10 jam 46 menit 41 detik
     08 jam 32 menit 15 detik
    –––––––––––––––––––––– +
    ....  jam  .... menit .... detik
    10 jam 46 menit 41 detik
    08 jam 32 menit 15 detik
    –––––––––––––––––––––– +
    18 jam 78 menit 56 detik
    Bentuk terakhir dapat kita tulis:
    18 jam 78 menit 56 detik = 18 jam + (1 jam + 18 menit) + 56 detik
     = 19 jam + 18 menit + 56 detik
2) 09 jam 43 menit 20 detik
    05 jam 23 menit 50 detik
    –––––––––––––––––––––– –
    .... jam  .... menit ....detik
    20 detik tidak bisa dikurangi dengan 50 detik, maka kita pinjam 1 menit = 60
    detik dari satuan menit, maka:
    09 jam 42 menit 80 detik
    05 jam 23 menit 50 detik
    –––––––––––––––––––––– –
    04 jam 19 menit 30 detik

Bilangan Romawi

Bilangan Romawi. Selain bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, maupun bilangan pecahan, satu lagi himpunan bilangan yaitu bilangan romawi. Bilangan Romawi tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan contoh kalimat berikut : Daerah Istimewa Jogjakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. X pada kalimat tersebut merupakan bilangan romawi. Angka Romawi atau Bilangan Romawi adalah sistem penomoran yang berasal dari Romawi kuno. Sistem penomoran ini memakai huruf Latin untuk melambangkan angka numerik.  


Pada sistem bilangan Romawi tidak dikenal bilangan 0 (nol). Untuk membaca bilangan Romawi, kamu harus hafal dengan benar ketujuh lambang bilangan dasar Romawi. Lambang bilangan romawi dilambangkan dengan huruh I, V, X, L, C, D, M. Untuk bilangan yang lain merupakan kombinasi dari bilangan tersebut. Berikut adalah angka untuk bilangan romawi. 

Angka untuk bilangan Romawi berbentuk huruf seperti berikut
  • I bilangan Romawi untuk 1
  • V bilangan Romawi untuk 5
  • X bilangan Romawi untuk 10
  • L bilangan Romawi untuk 50
  • C bilangan Romawi untuk 100
  • D bilangan Romawi untuk 500
  • M bilangan Romawi untuk 1.000
Aturan Penjumlahan Bilangan Romawi

Contoh:
LXXVI = L + X + X + V + I
             = 50 + 10 + 10 + 5 + 1
              = 76

Coba kamu perhatikan lambang bilangan Romawi pada contoh di atas. Semakin ke kanan, nilainya semakin kecil. Tidak ada lambang bilangan dasar yang berjajar lebih dari tiga. Dari contoh tersebut dapat kita tuliskan aturan pertama dalam membaca lambang bilangan Romawi sebagai berikut.
  • Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kanan, maka lambang-lambang Romawi tersebut dijumlahkan.
  • Penambahnya paling banyak tiga angka.
Aturan Pengurangan Bilangan Romawi
  • Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kiri, maka lambang-lambang Romawi tersebut dikurangkan.
  • Pengurangan paling banyak satu angka.
Contoh :
XL = L – X
      = 50 – 10
      = 40
Jadi, XL dibaca 40

Aturan Gabungan
Dari kedua aturan di atas (penjumlahan dan pengurangan) dapat digabung sehingga bisa lebih jelas dalam membaca lambang bilangan Romawi.
Contoh :
CDLXXIV = D – C + L + X + X + V – I
                   = 500 – 100 + 50 + 10 + 10 + 5 – 1
                   = 474

MCMXCIX = M + (M – C) + (C – X) + (X – I)
                     = 1.000 + (1.000 – 100) + (100 –10) + (10 – 1)
                     = 1.000 + 900 + 90 + 9
                     = 1.999
Jadi, MCMXCIX dibaca 1.999

Penaksiran dan Pembulatan

Penaksiran dan PembulatanPembulatan artinya mengurangi cacah bilangan namun nilainya hampir sama. Hasil yang diperoleh menjadi kurang akurat, tetapi akan lebih mudah digunakan. Berikut ini cara membulatkan bilangan :
  • Tentukan angka terakhir yang akan dipertahankan
  • Tambahkan 1 jika angka berikutnya adalah 5 atau lebih (pembulatan ke atas)
  • Biarkan sama jika angka berikutnya kurang dari 5 (pembulatan ke bawah)
Contoh : 5.486
  • Jika dibulatkan ke puluhan terdekat menjadi 5.490, angka yang akan dipertahankan adalah 80 (karena 86 satuannya (6)lebih dari 5 sehingga dibulatkan ke atas atau ditambah 1 ( 80 + 10 = 90) menjadi 90;
  • Jika dibulatkan ke ratusan terdekat menjadi 5.500, angka yang akan dipertahankan adalah 400 (karena 486 puluhanya (80) lebih dari 50 sehingga dibulatkan ke atas atau ditambah 1 (400 + 100 ) menjadi 500;
  • Jika dibulatkan ke ribuan terdekat menjadi 5.000, angka yang akan dipertahankan adalah 5.000 (karena 5.486 ratusanya (400) dibawah 500 sehingga dibulatkan ke bawah atau tetap sama yaitu 5.000).
Penaksiran
Taksiran merupakan perkiraan terdekat dari suatu hasil operasi hitung. Sama dengan pembulatan, Hasil penaksiran yang diperoleh menjadi kurang akurat, tetapi akan lebih mudah digunakan. Berikut ini contoh penaksiran hasil operasi hitung bilangan.
1. Penaksiran pada operasi penjumlahan dan pengurangan
    Contoh:
    Taksirlah penjumlahan berikut ke puluhan ribu terdekat.
    1) 18.445 + 21.648 = .... 
    2) 50.321 – 29.975 = ....

    1) 18.445 + 21.648 = ....
         Kita lakukan terlebih dahulu pembulatan bilangannya.
         18.445 dibulatkan ke puluhan ribu 20.000
         21.648 dibulatkan ke puluhan ribu 20.000
         Sehingga 20.000 + 20.000 = 40.000
         Jadi, 18.445 + 21.648 hasilnya adalah sekitar 40.000.
         Sekarang kita lihat hasil yang sebenarnya.
         18.445
         21.648
        ––––– +
        40.093
        Ternyata hasil perkiraan mendekati hasil yang sebenarnya.
    2) 50.321 – 29.975 = ....
         Kita lakukan terlebih dahulu pembulatan bilangannya.
         50.321 dibulatkan ke puluhan ribu 50.000
         29.975 dibulatkan ke puluhan ribu 30.000
         Sehingga 50.000 – 30.000 = 20.000
         Jadi, 50.321 – 29.975 hasilnya adalah sekitar 20.000.
         Sekarang kita lihat hasil yang sebenarnya.
         50.321
         29.975
         ––––– –
         20.346
         Ternyata hasil perkiraan mendekati hasil yang sebenarnya.
2. Perkalian dan pembagian
    Contoh:
    1) Taksirlah perkalian:
        77 × 52 = ....
        77 dibulatkan ke puluhan menjadi 80
        52 dibulatkan ke puluhan menjadi 50
        Sehingga 80 × 50 = 4.000
        Jadi, 77 × 52 hasilnya adalah sekitar 4.000.
        Sekarang kita lihat hasil yang sebenarnya.
        77 × 52 = 4.004
        Ternyata hasil taksiran mendekati hasil yang sebenarnya.
    2) Taksirlah pembagian:
         7.198 : 61 = …..
         7.198 dibulatkan ke ratusan terdekat menjadi 7.200
        61 dibulatkan ke puluhan 60
        Maka, 7.200 : 60 = 120
        Jadi, 7.198 : 61 hasilnya adalah sekitar 120.
        Sekarang kita lihat hasil yang sebenarnya.
        7.198 : 61 = 118
        Ternyata hasil taksiran mendekati hasil yang sebenarnya.

Memecahkan Masalah Uang

Memecahkan Masalah Uang. Uang merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.  Uang adalah alat tukar menukar atau transaksi. Uang merupakan alat transaksi yang sah . Uang biasanya digunakan untuk jual beli. Ada dua jenis uang yang sering kita gunakan yaitu uang logam dan uang kertas. Saat ini satuan mata uang logam yang beredar di negara kita adalah Rp. 100, Rp. 200, Rp. 500, Rp. 1.000, untuk uang kertas satuannya adalah Rp. 1.000,00.  Rp. 2.000,00.  Rp. 5.000,00.  Rp. 10.000,00.  Rp. 20.000,00. Rp. 50.000,00. dan Rp. 100.000,00.

Nilai Mata Uang
  • Nilai mata uang: Rp.100,00 Dibaca: seratus rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.200,00 Dibaca: dua ratus rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.500,00 Dibaca: lima ratus rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.1.000,00 Dibaca: seribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.2.000,00 Dibaca: dua ribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.5.000,00 Dibaca: lima ribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.10.000,00 Dibaca: sepuluh ribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.20.000,00 Dibaca: dua puluh ribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.50.000,00 Dibaca: lima puluh ribu rupiah;
  • Nilai mata uang: Rp.100.000,00 Dibaca: seratus ribu rupiah
Berikut ini beberapa contoh soal yang melibatkan uang.
1. Fatimah menukarkan lima lembar uang lima ribuan dengan 
    uang ribuan. Berapa lembar uang ribuan yang diterimanya?
    (5 x Rp. 5.000,00) : 1.000 
   = Rp. 25.000,00 : 1.000 
   = 25 lembar.
2. Rita membeli 7 buah donat keju dan 12 buah donat cokelat. 
    Harga donat keju masing-masing Rp.1.750,00 dan donat cokelat Rp1.500,00. 
    Berapa uang  yang harus Rita bayarkan?
     (7 x RP. 1.750,00) + (12 x Rp. 1.500,00)
     = Rp. 12.250,00 + Rp. 18.000,00
     = Rp. 30.250,00
3. Anita memberikan dua lembar uang Rp10.000,00. Uang tersebut untuk membeli
    3 buah buku tulis dan 2 buah pensil. Harga buku tulis Rp.4.500,00 dan harga
    pensil Rp.1.700,00. Berapakah uang kembalian yang diterima Anita?
    (2 x Rp. 10.000,00) - ( 3 x Rp. 4.500,00) + (2 x Rp. 1.700,00)
    = Rp. 20.000,00 - Rp. 13.500,00 + Rp. 3.400,00
    = Rp. 6.500,00 - 3.400,00
    = Rp. 3.100,00
4. Ibu membeli 2 lusin piring dan 3 kodi baju kaos. Harga piring Rp.2.250,00 per
    buah dan harga baju Rp.12.500,00 per buah. Berapakah harga seluruh belanjaan ibu?
    (2 x 12 x Rp.2.250,00) +( 3 x 20 x Rp. 12.500,00)
    = Rp. 54.000,00 + Rp. 750.000,00
    = Rp. 804.000,000
5. Bibi membeli 3 buah baju. Setiap baju harganya Rp.75.000,00. Bibi menjual baju-baju
    tersebut dengan harga setiap baju Rp.74.000,00; Rp.82.000,00; dan
    Rp.79.500,00. Berapakah keuntungan yang ia peroleh?
    ( Rp.74.000,00 + Rp.82.000,00 + RP. 79.500,00) - (3 x Rp. 75.000,00) 
    = Rp. 235.500,00 - Rp.225.000,00
    = Rp. 10.500,00

FPB dan KPK

Faktor dan Kelipatan. Kelipatan suatu bilangan merupakan bilangan-bilangan hasil penjumlahan dengan bilangan yang sama secara terus menerus atau hasil perkalian bilangan tersebut dengan bilangan asli. Perhatikan contoh berikut ini :
Kelipatan sebagai hasil perkalian dengan bilangan asli
Kelipatanx 1x 2x 3x 4x 5x 6x 7x 8x 9x 10x 11x 12
44812162024283236404448
661218243036424854606672
881624324048566472808896
Kelipatan sebagai hasil penjumlahan  dengan bilangan yang sama secara terus menerus
Bilangan+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7+ 7
7142835424956637077849198
Faktor
Faktor suatu bilangan adalah semua bilangan yang dapat membagi bilangan tersebut.
Contoh :
Faktor dari 128 adalah  
Bilangan1 2 4 8
128128643216
Jadi, faktor dari 128 adalah 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, dan 128.


Menentukan Kelipatan dan Faktor Persekutuan Suatu Bilangan
Kelipatan persekutuan   adalah kelipatan yang sama dari bilangan-bilangan tersebut. Kelipatan persekutuan merupakan kelipatanbeberapa bilangan.
Contoh :
Perhatikan kelipatan 2 dan 3 berikut.

  • Kelipatan 2 adalah 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, ….
  • Kelipatan 3 adalah 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30, ….
  • Kelipatan persekutuan 2 dan 3 = 6, 12, 18, 24, ....
Faktor persekutuan
Faktor persekutuan dari beberapa bilangan adalah faktor yang sama dari bilangan-bilangan tersebut.
Contoh :
  • Faktor 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, dan 12.
  • Faktor 24 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24.
  • Faktor persekutuan 12 dan 24 = 1, 2, 3, 4, 6, dan 12.
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK)
KPK adalah kelipatan persekutuan terkecil dari beberapa bilangan.
Contoh :
  • Kelipatan 3 adalah 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, ….
  • Kelipatan 4 adalah 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, ….
  • Kelipatan persekutuan dari 3 dan 4 adalah 12, 24, ….
12 adalah kelipatan persekutuan yang paling kecil. Karena itu disebut kelipatan persekutuan terkecil disingkat KPK.
Faktor Persekutuan Terbesar (FPB)
Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari beberapa bilangan merupakan faktor bersama yang terbesar dari beberapa bilangan.
Contoh : 
  • Faktor 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 12
  • Faktor 16 adalah 1, 2, 4, dan 16
  • Faktor persekutuan 12 dan 16 = 1, 2, dan 4
Faktor persekutuan 12 dan 16, yang paling besar adalah 4. Jadi, faktor bersama yang terbesar tersebut disebut Faktor Persekutuan Terbesar (FPB).

Sifat - sifat Cahaya

Sifat-sifat Cahaya. Cahaya adalah nama yang diberikan manusia pada radiasi yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya merupakan gelombang eloktromagnetik, yaitu gelombang yang getarannya adalah medan listrik dan medan magnet. Berdasarkan jenisnya, cahaya dibedakan menjadi cahaya yang tampak dan cahaya yang tidak tampak. Cahaya tampak adalah cahaya yang jika mengenai benda maka benda tersebut akan dapat dilihat oleh manusia, contoh cahaya matahari. Cahaya tak tampak adalah cahaya yang bila mengenai benda tidak akan tampak lebih terang atau masih sama sebelum terkena cahaya. Contoh cahaya tak tampak adalah sinar inframerah dan sinar x. Cahaya tampak dibagi menjadi 2 yaitu monokromatik dan polikromatik. Monokromatik adalah satu cahaya yang terdiri dari satu warna, contohnya merah. Sedangkan polikromatik adalah satu cahaya yang terdiri dari beberapa warna, contohnya ungu, merupakan kombinasi antara merah dan biru. 

Kita memerlukan cahaya untuk dapat melihat. Benda-benda yang ada di sekitar kita dapat kita lihat apabila ada cahaya yang mengenai benda tersebut, dan cahaya yang mengenai benda tersebut dipantulkan oleh benda ke mata. Walaupun benda terkena cahaya, jika pantulannya terhalang dari mata kita, kita tidak dapat melihat benda tersebut, misalnya suatu benda yang berada di balik tirai atau tembok.


Sebuah benda dapat dilihat karena adanya cahaya, yang memancar atau dipantulkan dari benda tersebut, yang sampai ke mata. Berdasarkan sumbernya cahaya dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
  • Cahaya yang berasal dari benda itu sendiri, seperti matahari, senter, lilin, dan lampu;
  • Cahaya yang memancar dari benda akibat memantulnya cahaya pada permukaan benda tersebut dari sumber cahaya. Misalnya, jika kamu melihat benda berwarna biru, artinya benda tersebut memantulkan cahaya berwarna biru. 
Berdasarkan dapat tidaknya memancarkan cahaya, benda dikelompokkan menjadi benda sumber cahaya dan benda gelap. Benda sumber cahaya dapat memancarkan cahaya. Contoh benda sumber cahaya yaitu Matahari, lampu, dan nyala api. Sementara itu, benda gelap tidak dapat memancarkan cahaya. Contoh benda gelap yaitu batu, kayu, dan kertas.

Cahaya mempunyai sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat cahaya banyak manfaatnya bagi kehidupan. 
1. Cahaya Merambat Lurus
Saat berjalan di kegelapan, kita memerlukan senter. Cahaya dari lampu senter arah rambatannya menurut garis lurus. Atau ketika kita melihat cahaya matahari yang menerobos masuk melalui genting. Kedua hal tersebut membuktikan bahwa cahaya merambat lurus. Kegiatan yang dapat untuk membuktikan bahwa cahaya merambat lurus adalah dengan menggunakan karton yang diberi lubang seperti gambar di samping. Ketika lobang karton disusun lurus kita dapat melihat cahaya lilin, namun ketika salah satu lobang digeser kita tidak bisa lagi melihat cahaya tersebut. Sifat cahaya yang selalu merambat lurus ini dimanfaatkan manusia pada pembuatan lampu senter dan lampu kendaraan bermotor.
2. Cahaya Dapat Menembus Benda Bening
Amatilah ketika kamu berjalan di bawah cahaya matahari. Ke mana pun kamu berjalan, selalu diikuti oleh bayanganmu sendiri. Bayang-bayang tubuhmu akan hilang ketika kamu masuk ke dalam rumah atau berlindung di balik pohon yang besar. Bayangan terbentuk karena cahaya tidak dapat menembus suatu benda. Ketika cahaya mengenai tubuhmu, cahaya tidak dapat menembus tubuhmu sehingga terbentuklah bayangan. Begitu pula ketika cahaya mengenai rumahmu dan pohon yang besar. Bayangan adalah daerah gelap yang terbentuk akibat cahaya tidak dapat menembus suatu benda. Bayangan dibedakan menjadi dua, yakni bayangan nyata dan bayangan maya. Bayangan maya (semu) adalah bayangan yang dapat dilihat mata, tapi tidak dapat ditangkap pada layar, sedangkan bayangan nyata adalah bayangan yang dapat ditangkap layar. 

Berdasarkan dapat atau tidaknya di tembus cahaya, benda-benda digolongkan menjadi 3:
  • Opaque atau benda tidak tembus cahaya, Adalah benda gelap yang tidak dapat ditembus oleh cahaya sama sekali. Opaque memantulkan semua cahaya yang mengenainya. Benda semacam ini contohnya adalah buku, kayu, tembok, dan air keruh.
  • Benda Bening, yakni benda-benda yang dapat ditembus cahaya. Benda bening juga sering disebut benda transparant. Benda transparant meneruskan semua cahaya yang mengenainya. Contohnya kaca yang bening dan air jernih
  • Benda Transluent Benda transluent adalah benda-benda yang dapat meneruskan sebagian cahaya yang datang dan menyebarkan sebagian cahaya yang lainnya. Contohnya kain gorden tipis, dan beberapa jenis plastik.
3. Cahaya dapat dipantulkan
Pemantulan (refleksi) atau pencerminan adalah proses terpancarnya kembali cahaya dari permukaan benda yang terkena cahaya. Contoh peristiwa pemantulan cahaya adalah saat kita bercermin. Bayangan tubuh kita akan terlihat di cermin, karena cahaya yang dipantulkan tubuh kita, saat mengenai permukaan cermin, dipantulkan, atau dipancarkan kembali hingga masuk ke mata kita. Pemantulan pada cermin, termasuk pemantulan teratur. Pemantulan teratur terjadi pada benda yang permukaannya rata dan mengkilap/licin. Pada benda semacam ini, cahaya dipantulkan dengan arah yang sejajar, sehingga dapat membentuk bayangan benda dengan sangat baik. Pada benda yang permukaannya tidak rata, cahaya yang datang dipantulkan dengan arah yang tidak beraturan. Pemantulan semacam ini disebut pemantulan baur, atau pemantulan difus

Cermin merupakan salah satu benda yang memantulkan cahaya. Berdasarkan bentuk permukaannya ada cermin datar dan cermin lengkung. Cermin lengkung ada dua macam, yaitu cermin cembung dan cermin cekung.

a. Cermin Datar
Cermin datar yaitu cermin yang permukaan bidang pantulnya datar dan tidak melengkung. Cermin datar biasa kamu gunakan untuk bercermin. Pada saat bercermin, kamu akan melihat bayanganmu di dalam cermin. Bayangan pada cermin datar mempunyai sifat-sifat berikut.
  • Ukuran (besar dan tinggi) bayangan sama dengan ukuran benda.
  • Jarak bayangan ke cermin sama dengan jarak benda ke cermin.
  • Kenampakan bayangan berlawanan dengan benda. Misalnya tangan kirimu akan menjadi tangan kanan bayanganmu.
  • Bayangan tegak seperti bendanya.
  • Bayangan bersifat semu atau maya. Artinya, bayangan dapat dilihat dalam cermin, tetapi tidak dapat ditangkap oleh layar.
b. Cermin Cembung  (positif)
Cermin cembung yaitu cermin yang permukaan bidang pantulnya melengkung ke arah luar. Cermin cembung biasa digunakan untuk spion pada kendaraan bermotor. Bayangan pada cermin cembung bersifat maya, tegak, dan lebih kecil (diperkecil) daripada benda yang sesungguhnya.

c. Cermin Cekung  (negatif)
Cermin cekung yaitu cermin yang bidang pantulnya melengkung ke arah dalam. Cermin cekung biasanya digunakan sebagai reflektor pada lampu mobil dan lampu senter. Sifat bayangan benda yang dibentuk oleh cermin cekung sangat bergantung pada letak benda terhadap cermin. Jika benda dekat dengan cermin cekung, bayangan benda bersifat tegak, lebih besar, dan semu (maya). Jika benda jauh dari cermin cekung, bayangan benda bersifat nyata (sejati) dan terbalik.

4. Cahaya Dapat Dibiaskan
Pembiasan adalah pembelokan arah rambat cahaya, saat melewati dua medium yang berbeda kerapatannya. Pembiasan cahaya dimanfaatkan manusia dalam pembuatan berbagai alat optik. Apabila cahaya merambat dari zat yang kurang rapat ke zat yang lebih rapat, cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal. Misalnya cahaya merambat dari udara ke air. Sebaliknya, apabila cahaya merambat dari zat yang lebih rapat ke zat yang kurang rapat, cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal. Misalnya cahaya merambat dari air ke udara. 


Pembiasan cahaya sering kamu jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dasar kolam terlihat lebih dangkal daripada kedalaman sebenarnya. Gejala pembiasan juga dapat dilihat pada pensil yang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air. Pensil tersebut akan tampak patah.

5. Cahaya dapat diuraikan
Cahaya putih seperti cahaya matahari termasuk jenis cahaya polikromatik. Cahaya polikromatik adalah cahaya yang tersusun atas beberapa komponen warna. Cahaya putih tersusun atas spektrum-spektrum cahaya yang berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Spektrum warna yang tidak dapat diuraikan lagi disebut cahaya monokromatik.  Cahaya putih dapat diuraikan. Saat melewati prisma, cahaya putih akan mengalami dispersi (penguraian).  Contoh peristiwa dispersi cahaya yang terjadi secara alami adalah peristiwa terbentuknya pelangi. Pelangi terbentuk dari cahaya matahari yang diuraikan oleh titik-titik air hujan di langit. Cahaya matahari yang kita lihat berwarna putih. Namun, sebenarnya cahaya matahari tersusun atas banyak cahaya berwarna.


Kita juga dapat mengamati peristiwa dispersi cahaya pada balon air. Kita dapat menggunakan air sabun untuk membuat balon air. Jika air sabun ditiup di bawah sinar matahari, kamu akan melihat berbagai macam warna berkilauan pada permukaan balon air tersebut. 


Sifat-sifat cahaya  dapat dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai macam alat, di antaranya periskop, teleskop, kaleidoskop, dan lup. 
  • Periskop
Awak kapal selam yang berada di kedalaman laut dapat mengamati permukaan laut menggunakan periskop. Periskop menerapkan sifat cahaya yang berupa pemantulan. Cahaya dari atas permukaan laut ditangkap oleh suatu cermin, kemudian dipantulkan menuju mata pengamat di dalam kapal selam.
  • Teleskop
Teleskop memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan periskop. Teleskop memiliki dua lensa yang dapat membiaskan cahaya. Adanya pembiasan itu membuat objek yang jauh terlihat sangat dekat. Teleskop pertama dibuat pada tahun 1608 oleh orang Belanda bernama Hans Lippershey. Setahun kemudian, Galileo Galilei menyempurnakan teleskop itu. Setelah disempurnakan, teleskop dapat digunakan untuk mengamati bintang.
  • Kaleidoskop
Kaleidoskop adalah mainan yang dibuat menggunakan cermin. Dengan alat ini, kamu dapat membuat aneka macam pola yang mengagumkan. Pola-pola ini diperoleh karena bayangan benda-benda dalam kaleidoskop mengalami pemantulan berkali-kali. Dengan demikian, jumlah benda terlihat lebih banyak daripada benda aslinya.
  • Lup
Lup merupakan alat optik yang sangat sederhana. Alat ini berupa lensa cembung. Lup berfungsi membantu mata untuk melihat bendabenda kecil agar tampak besar dan jelas.

;;

By :
Free Blog Templates